TAMAN PENDIDIKAN PRASEKOLAH CAHAYA INSAN CENDEKIA

Menyulut_Sikap_P_5010a11eae7fa_20120728154715_large

Melatih Percaya Diri 

Mengenalkan anak dengan lingkungan sosial sangat penting adanya. Selain menambah tingkat percaya diri. kemampuan bersosialisasi membuat anak lebih mudah bergaul dan beradaptasi di lingkungan yang baru. Namun, seringkali banyak anak kita yang masih mengalami kesulitan saat bersosialisi. Berikut ini adalah beberapa treatmen yang bisa dilakukan untuk melatih anak cerdas bersosialisasi

  • Suasana kekeluargaan yang terbuka. Menciptakan suasana orang tua dan anak yang saling terbuka dapat membantu kemampuan anak bersosialisai dengan keluarganya. Sebagai contoh dengan mengajaknya menceritakan kegiatannya sehari hari dan membiarkan anak mengeluarkan keluhannya. Dengan hal tersebut anak akan berani bertanya, mengeluarkan pendapat dan curhat.
  • Dorong anak dalam beraktivitas dan kelompok. mendukung aktivitas anak diluar kegiatan belajarnya akan menambah kemampuan anak berkomunikasi dan berinterasi dengan orang lain seperti mengikuti klub sepak bola, klub tari
  • Mengenalkan Anak dengan orang yang kita kenal. Mempertemukan anak dengan orang yang sering kita jumpai akan menambah kemampuan anak mengenali ciri khas seseorang. Seperti keluarga, teman, dan saudara.
  • Memberi contoh yang baik. Anak akan lebih mudah meniru apa yang dilakukan oleh orang yang sehari-hari bersamanya. mencotoh setiap tingkah lakunya. jika anda memberi contoh menyapa seseorang saat lewat di depannya pastilah nantinya anak akan mencontoh perilaku tersebut.
  • Mengajak anak bermain bersama
  • Membangkitkan rasa percaya diri anak
  • Mengajarkan kepada anak tentang etika bergaul. dengan sering mengajaknya bertemu orang lain kemampuan bersosialisasi anak akan meningkat. mengajarkan kepada anak kesopan, menghargai orang lain.
  • Jangan terlalu protektif kepada anak
  • Perhatikan anak saat berinteraksi. dengan melihat kemampuan berinteraksi pada anak orang tua akan lebih mudah mengarahkan saat berteman dan memilih teman
  • Menjelaskan arti teman pada anak
  • Permainan sosial sumber: www. tipsanakabayi.com/16 Januari 2016

Read the rest of this entry »

Mari kita menenal huruf

A a B b C c D d E e F f G g H h I i J j K k L l M m N n O o P p Q q R r S s T t U u V v W w X x Y y Z z

sebelum belajar mem baca mari coba kita rangkaikan huruf;

Ba         Bi             Bu         Be         Bo

Ca         Ci             Cu        Ce          Co

Da         Di             Du       De         Co

Fa         Fi             Fu        Fe         Fo

Ha         Hi            Hu        He        Ho

Perhatikan Gambar di bawah ini

Menggambar merukan seni tersendiri yang mula-mula harus di ajarkan kepada anak, Karena dengan menggambar kemampuan imaginasi anak akan terukir nyata dalam bentuk goresan. berikut ini kita akan memberikan langkah awal dalam mengajarkan anak-anak menggambar. Gambar bisa langsung diambil ya sebagai contoh

Read the rest of this entry »

cara membuat kincir angin origami dengan memperlihatkan langkah per langkahnya. Bentuk kincir angin adalah salah satu bentuk paling sederhana dari seni origami. Setelah selesai dibuat, kincir angin ini bisa menjadi permainan anak atau pembatas buku dengan cara menambahkan seuntai benang atau menempelkannya dengan stik es krim bekas.

    lipat empat bagian sama besar dari tiap sisi kertas
    lipat ke arah tengah dari ke dua sisi

 

    buka bagian atas, kemudian lipat bagian dalamnya diagonal, lakukan hal yang sama pada bagian bawah

 

    lipat kembali ke arah semula, lakukan hal yang sama pada bagian bawah

 

    lipat satu bagian ke arah yang berlawanan dengan pasangannya

 

kincir angin telah selesai. tambahkan seuntai benang di bagian tengah dan gantungkan di atas buaian bayi anda. buatlah beberapa buah dengan warna yang berbeda-beda. sangat baik untuk menstimulasi penglihatan bayi anda yang masih terbatas

Mari kita berkreasi ..

Celengan Unik

Celengan Unik

Memanfaatkan barang yang terpakai menjadi barang yang bermanfaat tak menjadi sampah:

Beberapa hal yang berkaitan dengan proses pembuatan Celengan dari Kaleng Bekas bisa disimak di bawah ini:

  1. Bahan – bahan yang diperlukan:
  2. Kaleng bekas
  3. Skotlet/Sticker
  4. Alat – alat yang digunakan:
  5. Gunting
  6. Cutter
  7. Korek api
  8. Jarum
  9. Kain lap pembersih
  10. Cara membuatnya:
  11. Lubangi kaleng sesuai ukuran uang di bagian atas dengan rapi;
  12. Gunting skotlet sesuai dengan bentuk dan ukuran kaleng;
  13. Bersihkan kaleng dari debu. Bila kaleng dilapisi bahan dari kertas atau plastik, segera dilepas agar skotlet bisa menempel langsung pada kaleng dan merkat kuat;
  14. Tempelkan skotlet secara bertahap dan ditekan berlahan serta merata hingga semua bagian kaleng tertutup rapi;
  15. Panasi skotlet yang telah menempel didinding kaleng dengan korek api;
  16. Jika ada gelembung udara yang terkurung skotlet yang telah terpasang, tusuk menggunakan jarum agar udaranya dapat keluar. Setelah itu tekan menggunakan tangan agar menempel rata dan panaskan.

Potong bagian yang belum rapi menggunakan cutter.

Tags: ,
Perkembangan bayi

Perkembangan bayi

Si kecil bisa berjalan lebih dini tanpa melalui tahap merangkak? Jangan bangga dulu, karena menganggap itu sebagai tanda bahwa tumbuh kembang si kecil tergolong pesat. Sadari bahwa melewatkan tahap merangkak justru bisa berdampak buruk di kemudian hari! ”Dampak itu muncul saat anak memasuki usia bangku sekolah dasar. Seperti, anak jadi susah konsentrasi, kurang fokus, tulisan tangannya jelek, gampang jatuh, konvergensi mata kurang bagus, serta koordinasi mata dan tangannya kurang bagus,” ujar pakar stimulasi anak dari Pusat Stimulasi Anak Glenn Doman Jakarta Irene F Mongkar kepada Nyata.

Memang, kata Irene, belum ada penelitian pasti soal dampak tersebut. Namun, 80 persen orangtua yang anaknya mengalami masalah-masalah tersebut dan berkonsultasi kepadanya, ternyata melewatkan tahap merangkak. ”Jadi, daripada di kemudian hari anak mengalami masalah-masalah seperti itu, lebih baik beri kesempatan anak untuk merangkak,” tandasnya. Irene menjelaskan, merangkak merupakan langkah pertama bayi melawan gravitasi, merupakan fase perkembangan otak, dan tonggak sistem koordinasi tubuh . Pada saat itu, bayi akan belajar banyak hal, seperti:

– Keseimbangan
Saat merangkak, bayi akan belajar koordinasi gerak tangan dan kaki. Merangkak akan berjalan dengan baik kalau tangan kanan dan kaki kiri maju. Bukan kaki kanan dan tangan kanan.
Belajar koordinasi itu akan melatih otak menjaga keseimbangan, yang nantinya akan berguna pada kemampuan jalan dan lari. Keseimbangan juga bermanfaat untuk kesadaran diri.
”Anak yang keseimbangannya baik, saat jatuh akan berada pada posisi benar, sehingga terhindari dari akibat fatal. Jadi, otaknya dilatih untuk sadar diri. Begitu ada sesuatu yang ’menghantamnya’, anak bisa refleks bergerak dengan cukup baik, karena kesimbangannya matang,” beber Irene.

– Kemampuan Konvergensi
Anak yang tidak melalui tahap merangkak, gerakan konvergensi (pemusatan pandangan)-nya akan terganggu, sehingga penglihatannya jadi buram, letih, atau nyeri kepala, sehingga tidak suka membaca. Sebab, hanya membaca beberapa waktu saja tulisan yang dibacanya akan tampak goyang, buram, dan akhirnya membuatnya pusing.

– Koordinasi Mata-Tangan
Anak-anak yang tidak merangkak akan kesulitan melakukan gerakan yang memerlukan koordinasi antara mata dengan tangan. Misalnya, mengancingkan baju. Sebab, anak akan melihat lubang kancing dan kancingnya dua, sehingga bingung mana akan masuk ke lubang mana. ”Itu karena konvergensi matanya kurang bagus,” ujar Irene.

– Melatih Tiga Dimensi
Dengan merangkak, bayi akan melatih kemampuan melihat segala sesuatunya secara tiga dimensi. Misalnya, saat berjalan dan ada lubang di depannya, tanpa perlu melihat dengan jelas dari dekat, anak akan langsung tahu dan berupaya menghindarinya.

– Melatih Lengan
Merangkak akan melatih lengan bayi, sehingga menjadi lebih kuat. Itu akan membantunya belajar menulis.”Dibutuhkan lengan yang kuat saat menulis, untuk menekan pensil di atas kertas. Bila tekanannya tidak kuat, tulisan akan mengambang, sehingga sulit dibaca,” ujar Irene.

– Melatih Otak
Merangkak akan meningkatkan kemampuan berpikir otak kiri dan kanan, untuk menyiapkan diri masuk ke tahap perkembangan selanjutnya.

STIMULASI
Bayi mulai masuk tahap merangkak pada usia 6-7 bulan. Tapi, itu juga bergantung pada stimulasi atau rangsangan yang diberikan orangtua. Merangkak dimulai dengan gerakan merayap, yaitu gerakan menggeserkan tubuh dengan bertumpu pada perut.
Untuk itu, Irene menyarankan agar bayi ditengkurapkan di permukaan yang tidak terlalu empuk atau cukup keras namun tidak membuat bayi sakit bisa terbentur, dan ruangan yang cukup hangat. ”Bila diberi sarana yang cukup baik untuk merayap, bayi akan merangkak lebih cepat,” ujarnya. Selain itu, lakukan stimulasi agar bayi bisa melalui tahapan merangkak dengan baik, seperti:

– Tempatkan di Ruang Cukup Luas
Biarkan bayi berada di ruangan yang cukup luas agar bebas merangkak. Masalahnya, seringkali kesempatan itu tidak ada, sehingga anak tidak leluasa merangkak. ”Ketika anak duduk dan baru merangkak dua-tiga langkah, sudah bertemu kaki meja atau kursi, sehingga ia langsung berpegangan untuk berdiri. Itulah yang membuat anak melewatkan tahap atau fase merangkak,” terang Irene.

– Beri Motivasi
Orangtua harus terlibat saat bayi belajar merangkak. Misalnya, dengan memotivasi dengan mengajak bayi bermain dan mengajari cara merangkak yang benar. ”Bila merayapnya sudah bagus, biasanya bayi akan lebih mudah merangkak,” kata Irene.
Tahap merangkak biasanya dimulai dengan ongkong-ongkong, kemudian mulailah merangkak. Yang harus diperhatikan, merangkak tidak hanya berarti bayi berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tapi, gerakan itu harus benar, yaitu saat tangan kanan bergerak ke depan harus diikuti kaki kiri yang bergerak maju. Begitu sebaliknya. ”Itu menunjukkan koordinasi otak yang baik,” tandasnya. Dan, yang perlu disadari, merangkak tidak hanya berarti bayi berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tapi gerakan itu harus terus meningkat. ”Jadi, saat merangkak, bayi perlu dilatih di berbagai permukaan, baik tinggi, rendah, atau miring, sehingga ia bisa merangkak di berbagai dasar,” ujar Irene. ”Selain itu, orangtua juga perlu melatih kesadaran atau awareness-nya. Misalnya, dengan menyenggol sedikit pantatnya. Kalau ia aware, saat kehilangan keseimbangan bayi akan segera balik lagi,” imbuhnya.
Bagaimana bila gerakan bayi merangkak tidak maju tetapi mundur? Menurut Irene, itu menunjukkan adanya masalah pada otak bayi. Karena itu, orangtua harus membantu agar bayi belajar merangkak maju. Misalnya, orangtua bisa berada pada posisi merangkak, kemudian anak diletakkan di bawah tubuhnya. Selanjutnya, orangtua merangkak maju, sehingga anak akan bergerak mengikuti. Atau, meletakkan mainan favorit di depan anak agar anak bergerak maju dalam posisi merangkak. ”Usahakan tidak terlalu jauh. Cukup posisikan mainannya di tempat yang mudah dijangkau oleh tangan bayi. Sebab, perjuangan untuk meraih mainan bisa membuat bayi frustrasi,” ujarnya mengingatkan.

BILA ANAK TERLANJUR MERANGKAK
Lantas, bagaimana bila sudah besar dan telanjur melewatkan fase merangkak? Ditanya seperti itu, Irene mengatakan, anak bisa dilatih untuk kembali melakukan kegiatan merangkak setiap hari selema 3-6 bulan. ”Orangtua harus bisa memotivasi anak agar mau melakukan kegiatan itu. Memang agak susah meminta anak yang sudah cukup besar, yang sudah bisa berjalan dan berlari, untuk merangkak. Untuk itu, melatihnya harus dikondisikan dengan bermain,” ujarnya.
Namun, lagi-lagi Irine mengingatkan, ketimbang anak harus menanggung dampak yang tidak diinginkan di kemudian hari, orangtua sebaiknya tidak membuat anak melewatkan tahap perkembangan normal anak, yaitu merayap, merangkak, berdiri, berjalan, dan akhirnya berlari. ”Jangan ada potong kompas. Jangan ingin hasil instan, karena waktu itu tidak bisa diulang. Sekali melewati masa itu, maka akan lewat. Walaupun bisa dilakukan pengulangan, dengan dilatih kembali, tapi bila orangtua tidak mengetahuinya, bisa lewat begitu saja,” tandasnya.*nao/ss