TAMAN PENDIDIKAN PRASEKOLAH CAHAYA INSAN CENDEKIA

Orang Tua Sebagai Pendidik Pertama

Posted on: August 31, 2013

Peran dan Fungsi Orang Tua Sebagai Pendidik yang Pertama dan Utama

Jika cinta orang tua terhadap anak merupakan perasaan alami yang dimiliki semenjak lahir, maka seharusnya mereka tidak perlu diperingatkan. Namun Islam untuk lebih menekankan perlu dan pentingnya melindungi keselamatan anak, secara keras memperingati orang tua agar mereka tidak lengah, sehingga anggota keluarganya dan seluruh anggota masyarakat hidup bahagia secara sempurna. Selanjutnya, dengan demikian akan tumbuh dan tercipta suatu generasi baru yang cukup kuat untuk menanggung beban kehidupan selanjutnya dengan penuh optimis dan mandiri.

Dalam upaya melindungi keselamatan anak, orang tua perlu melakukan pembinaan-pembinaan agar dapat mencapai kehidupan yang lebih sempurna, pembinaan tersebut antara lain:

1. Membina Pribadi Anak

Setiap orang tua dan semua guru ingin membina agar anak menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan akhlak yang terpuji. Semua itu dapat diusahakan melalui pendidikan, baik yang formal (di sekolah) maupun non formal (di rumah oleh orang tua). Setiap pengalaman yang dilakui anak, baik melalui penglihatan, pendengaran, maupun perlakuan yang diterimanya akan ikut menentukan pembinaan pribadinya.

Orang tua adalah pembinaan pribadi yang pertama dalam hidup anak. Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka, merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung, yang dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh itu. Sikap anak terhadap guru agama dan pendidikan agama di sekolah sangat dipengaruhi oleh sikap orang tuanya terhadap agama dan guru agama khususnya

Perilaku orang tua terhadap anak tertentu dan terhadap semua anaknya, merupakan unsur pembinaan lainnya dalam pribadi anak. Perlakuan keras, akan berlainan akibatnya daripada perlakuan yang lembut dalam pribadi anak. Hubungan orang tua dengan sesama mereka sangat mempengaruhi pertumbuhan jiwa anak. Hubungan yang serasi, penuh pengertian dan kasih sayang, akan membawa kepada pembinaan pribadi yang tenang terbuka dan mudah didik, karena ia mendapat kesempatan yang cukup dan baik untuk tumbuh dan berkembang. Tapi hubungan orang tua yang tidak serasi, banyak perselisihan dan percecokan akan membawa anak kepada pertumbuhan pribadi yang sukar dan tidak mudah dibentuk, karena ia tidak mendapatkan suasana yang baik untuk berkembang, sebab selalu tergantung oleh suasana orang tuanya.

Banyak faktor-faktor secara tidak langsung, dalam keluarga yang mempengaruhi pembinaan pribadi anak. Di samping itu, tentunya banyak pula pengalaman-pengalaman anak, yang mempengaruhi nilai pendidikan baginya, yaitu pembinaan-pembinaan tertentu yang di lakukan orang tua terhadap anak, baik melalui makan dan minum, buang air, tidur dan sebagainya. Semuanya termasuk unsur pembinaan bagi pribadi anak.

Berapa banyak macam pendidikan tidak langsung yang telah terjadi pada anak sebelum ia masuk sekolah, tentu saja sertiap anak mempunyai pengalamannya sendiri, yang tidak sama terhadap anak lain. Pengalaman yang di bawa oleh anak-anak dari rumah itu, akan menentukan sikapnya terhadap sekolah dan guru. Guru agama mempunyai tugas yang cukup berat, yaitu ikut membina pribadi anak disamping mengajarkan pengetahuan agama kepada anak, guru agama mempunyai tugas memperbaiki pribadi anak yang kurang baik, karena tidak mendapat pendidikan dalam keluarga.

Guru agama bertugas membawa anak didik kearah kebaikan, setiap guru agama harus menyadari bahwa segala sesuatu pada dirinya akan merupakan unsur pembinaan bagi anak didik. Di samping pendidikan dan pengajaran yang dilaksanakan dengan sengaja oleh guru dalam pembinaan anak didik, juga sangat penting dan menentukan pula adalah kepribadian, sikap dan cara hidup guru itu sendiri, bahkan cara berpakaian, cara bergaul, berbicara dan menghadapi setiap masalah, yang secara tidak langsung tidak tampak hubungannya dengan pengajaran, namun dalam pendidikan atau pembinaan pribadi si anak, hal-hal tersebut sangat berpengaruh dalam proses pembinaan pribadi anak.

2. Membentuk kebiasaan

Masalah- masalah yang sudah menjadi ketetapan dalam syariat Islam bahwa sang anak diciptakan dengan fitrah tauhid yang murni, agama yang lurus, dan iman kepada Allah. Yang dimaksud dengan fitrah Allah adalah bahwa manusia diciptakan Allah mempuyai naluri beragama, yaitu agama tauhid.  Jika ada manusia tidak memiliki agama tauhid itu hanya lantaran pengaruh  lingkungan.

Dari sini peranan pembisaan, pengajaran dan pendidikan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak akan menemukan tauhid yang murni, keutamaan-keutamaan budi pekerti, spiritual dan etika agama yang lurus. Zakiyah Daradjat berpendapat, “Tidak dapat dipungkiri betapa pentingnya pendekatan agama Islam dalam rangka membangun manusia seutuhnya. Tidak dapat dibayangkan membangun manusia tanpa agama. Kenyataan membuktikan bahwa dalam masyarakat yang kurang mengindahkan agama (atau bahkan anti agama), perkembangan manusianya pincang. Hal ini berlaku di negara-negara berkembang maupun di negara maju. Ilmu pengetahuan tinggi, tapi akhlaknya rendah. Kebahagiaan hidup tidaklah mudah dicapainya. Agama menjadi penyeimbang, penyelaras dalam diri manusia sehingga dapat mencapai kemajuan lahiriyah dan kebahagiaa rohaniyah.” (Daradjat, 1995 : 65).

Di sinilah pendidikan agama Islam mempunyai peran yang cukup penting. Oleh karenanya untuk membentuk kepribadian muslim tersebut diperlukan suatu tahapan, di antaranya dengan membentuk kebiasaan serta latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karena pembiasaan dan latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang lambat laun, sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi, karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya.

Muhammad Quthb yang dialih bahasakan oleh Salman Harum mengatakan, “Kebiasaan memiliki yang sangat istimewa dalam kehidupan manusia karena dalam aktualisasi perannya tidak begitu banyak menyita tenaga manusia. Kebiasaan hanya bisa dilakukan dengan cara memberikan latihan-latihan secara terus menerus, sehingga menjadi terbiasa dan menjadi melekat dalam diri mereka dan dengan spontan mereka melakukan kegiatan-kegiatan tersebut dengan enteng tanpa kehilangan banyak tenaga dan tanpa menemukan banyak kesulitan” (Quthb, 1984 : 363 ).

Jadi, latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah, seperti sembahyang, doa, membaca Alquran (atau menghafal ayat-ayat atau surat-surat pendek), shalat berjamaah di sekolah dan di masjid harus dibiasakan sejak kecil, sehingga lambat laun akan tumbuh rasa senang melakukan ibadah tersebut. Anak dibiasakan sedemikian rupa, sehingga dengan sendirinya akan terdorong untuk melakukannya, tanpa suruhan dari luar, tapi dorongan dari dalam, karena pada dasarnya prinsip agama Islam tidak ada paksaan, tapi ada keharusan pendidikan yang dibebankan kepada orang tua dan guru atau orang yang mengerti agama.

Dengan kata lain dapat kita sebutkan bahwa pembiasaan dalam pendidikan anak sangat penting, terutama dalam pembentukkan pribadi, akhlak dan agama pada umumnya, karena pembiasaan-pembiasaan agama itu akan memasukkan unsur-unsur positif dalam pribadi yang sedang tumbuh. Semakin banyak pengalaman agama yang didapatnya melalui pembiasaan itu, akan semakin banyaklah unsur agama dalam pribadinya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidikan pembiasaan itu sangat penting dalam mendidik anak, terutama dalam pendidikan agama.

3. Membentuk Kerohanian Menjadi Pribadi Muslim

Muhammad Quthb mengatakan, ”Menurut pandangan Islam rohani adalah pusat eksistensi dan menjadi titik pusatnya, karena dengan rohani itu seluruh alam saling berhubungan dan memelihara kehidupan manusia untuk menuntut kepada keberanian. Pendeknya merupakan penghubung antara manusia dan Allah SWT. Sungguh sangat besar sekali kekuatan rohani dibandingkan kekuatan tubuh, karena kekuatan tubuh hanya terbatas wujud, materi, dan kekuataan berfikir, terbatas hanya dalam hal-hal yang dapat dipikirkan dan terbatas oleh ruang dan waktu, sedangkan rohani manusia tidak mengenal batasan dan rintangan, tidak mengenal waktu dan tempat, tidak pernah sirna.” (Quthb, 1984 : 59-60).

Dalam pembentukkan rohani tersebut, pendidikan agama memerlukan usaha dari guru (pengajar) untuk memudahkan dalam pelaksanaannya, dan usaha itu sendiri dilakukan dengan penuh kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan. Dalam pembinaan itu dilaksanakan secara terus menerus tidak langsung sekaligus melainkan melalui proses. Maka, dengan adanya ketekunan, keikhlasan, benar-benar penuh perhatian dengan penuh tanggung jawab maka Insya Allah kesempurnaan rohani tersebut akan tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Adapun usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang di harapkan adalah sebagai berikut:

a. Menanamkan Kepercayaan Diri

  1. Menanamkan kepercayaan kepada Allah SWT agar merasakan bahwa Allah SWT selalu dekat dan selanjutnya takut untuk melaksanakan hal-hal yang buruk.
  2. Menanamkan kepercayaan tentang adanya malaikat, dengan menanamkan kepercayaan tersebut, dapat merasakan bahwa setiap gerak-gerik selalu diawasi oleh malaikat.
  3. Menanamkan kepercayaan akan kitab Allah SWT.
  4. Menanamkan kepercayaan akan rasul-rasul-Nya, untuk mengambil contoh tauladan mereka.
  5. Menanamkan kepercayaan kepada Qodho dan Qodhar.
  6. Menanamkan kepercayaan akan adanya hari kiamat, dengan menanamkan rasa ini akan merasa takut melakukan perbuatan tercela, karena saat di akhirat nanti ada balasannya. (Seniawan, 1990 : 28).

b. Mengadakan bimbingan agama dengan cara mengikat terus menerus antara manusia dengan Allah SWT, dengan cara:

  1. Menciptakan suasana pada hati mereka untuk merasakan adanya Allah SWT dengan melihat segala keagungan yang telah di ciptakan-Nya, sehingga akan membuat mereka terpana dan terkesan ke dalam hati mereka.
  2. Menanamkan pada hati mereka bahwa Allah SWT akan selalu hadir dalam sanubari mereka di mana pun mereka berada.
  3. Menanamkan pada hati mereka perasaan cinta kepada Allah SWT, secara terus menerus mencari keridhaan-Nya.
  4. Menanamkan perasaan takwa dan tunduk kepada Allah SWT, dan mengorbankan perasaan damai bersama Allah SWT dalam keadaan apapun. (Al, wafa, 6 : 1997)

c.  Membimbing mereka dengan cara memberikan dorongan kepada hal-hal yang mengarah ketaatan kepada Allah SWT dan mendidik mereka dengan berbagai macam ibadah agar dengan hal itu akan terbukalah hatinya. (Al-Qasim, 6 : 1999 )

Usaha yang dilakukan dengan cara yang telah dilakukan dalam membentuk kerohanian tersebut, dengan di jalankan secara terus menerus, tanpa mengenal batas, maka Insya Allah hal itu akan menemani perasaan jiwanya serta mendapatkan cahaya dan petunjuk dari Allah SWT, yang selanjutnya akan terbentuklah kepribadian muslimin yang hakiki. Menurut Ahmad D. Marimba kepribadian muslim adalah “Kepribadian yang selurus aspek-aspeknya, baik tingkah-laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidup dan kepercayaan menunjukkan pengabdian kepada Allah SWT dan penyerahan diri kepadanya.” (Marimba, 1962 : 68 )

Hal yang dapat menguatkan kepribadian muslim di antaranya adalah kesederhanaan di dalam hidup dengan melalui jalan yang lurus dalam pengaturan harta benda, tidak bersifat kikir, dan tidak juga berlaku boros. Kepribadian muslim juga dapat diperkuat dengan cara memperkuat pisik atau menjaga kesetabilan tubuh, dijaga supaya badan selalu sehat. Selain itu Islam juga menawarkan agar umatnya dapat saling nasehat menasehati dalam hal kebaikan Allah berfirman dalam surat Al-Ashr ayat 3 sebagai berikut:

Artinya: “Kecuali orang-orang yang beriman dan menngerjakan amal soleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran.” (QS. Al-Ashr: 3)

Dari uraian-uraian yang telah dijelaskan di atas mengenai orang tua, dapat diambil kesimpulan bahwa betapa pentingnya peran orang tua dalam membentuk kepribadian seorang anak, tanpa bimbingan dan arahan orang tua tidak mungkin kepribadian anak dapat terbentuk dengan baik. Sehingga Islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk membina anak-anaknya kea rah yang baik sesuai denngan ajaran-ajarannya.

Konsep Orang Tua dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak

Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang berkembang secara sempurna. Mereka menginginkan anak yang dilahirkan itu kelak menjadi orang yang sehat dan kuat, berketrampilan, cerdas, pandai dan beriman. Yang bertindak sebagai pendidik dalam keluarga adalah ayah dan ibu (orang tua) si anak. Pendidikan yang harus dijalankan orang tua adalah pendidikan bagi perkembangan akal dan rohani anak, pendidikan ini mengacu pada aspek-aspek kepribadian secara dalam garis besar. Menggenai pendidikan akal yang dilakukan orang tua adalah menyekolahkan anak karena sekolah merupakan lembaga paling baik dalam mengembangkan akal dan interaksi sosial.

Kunci pendidikan dalam rumah tangga, sebenarnya terletak pada pendidikan rohani dalam arti pendidikan kalbu, lebih tegas lagi pendidikan agama bagi anak karena pendidikan agamalah yang berperan besar dalam membentuk pandangan hidup seseorang. Ada dua arah mengenai kegunaan pendidikan agama dalam rumah tangga. Pertama, penanaman nilai dalam arti pandangan hidup, yang kelak mewarnai perkembangan jasmani dan akal. Kedua, penanaman sikap yang kelak menjadi basis dalam menghargai guru dan pengetahuan di sekolah.

Anak pada hakikatnya merupakan amanat dari Allah SWT yang harus disyukuri, dan kita sebagai muslim wajib mengemban amanat itu dengan baik dan benar. Cara mensyukuri karunia Allah tersebut yang berupa anak adalah dengan melalui merawat, mengasuh, dan mendidik anak tersebut dengan baik dan benar, agar mereka kelak tidak menjadi anak-anak yang lemah, baik fisik dam mental, serta lemah iman dan lemah kehidupan duniawinya.

Tujuan dari pendidikan tersebut adalah menjadi seorang muslim yang sempurna, yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Orang tua adalah pendidik pertama yang utama bagi anak, sebelum anak mengenal dunia luar, maka terlebih dahulu anak mengenal orang tuanya yang merupakan orang terdekat bagi anak. Setiap orang tua wajib mendidik dengan pendidikan yang baik dan benar, sehingga mereka tumbuh dewasa menjadi seorang muslim yang kuat, kuat dalam arti kuat iman dan Islamnya, wawasan dan pengetahuannya luas, serta dewasa dalam bersikap dan dalam mengambil dan menentukan keputusan.

Sabda Rasulullah SAW yang berkenaan kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya.

Artinya : “Tiada seorang anak pun yang lahir, kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu baragama yahudi, nasrani, atau majusi. “ (HR. Bukhari – Muslim).

Fitrah yang dimaksud adalah bahwa setiap anak yang dilahirkan sudah memiliki potensi-potensi yang harus diwujudkan dan dikembangkan, potensi-potensi tersebut berupa bakat-bakat kreatifitas anak yang harus dimunculkan, sehingga bakat tersebut dapat menjadi acuan bagi kelangsungan hidupnya kelak setelah dewasa. Orang tua hendaklah teliti dalam perkembangan anak. Potensi beribadah shalat anak haruslah sejak dini diperhatikan, dimulai dengan mengenal lingkungan sekitar.

Pendidikan yang dijalankan dengan cara sistematik dan penuh kesadaran yang dilakukan orang tua agar didikannya itu sesuai dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri, yaitu mengarahkan anak kearah kedewasaan.

Adapun usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan adalah sebagai berikut :

a. Menanamkan kepercayaan diri.

  1. Menanamkan kepercayaan kepada Allah SWT agar merasakan bahwa Allah SWT selalu dekat dan selanjutnya takut untuk melaksanakan hal-hal yang buruk
  2. Menanamkan kepercayaan tentang adanya malaikat, dengan menanamkan kepercayaan tersebut, dapat merasakan bahwa setiap gerak garik selalu diawasi oleh para malaikat.
  3. Menanamkan kepercayaan akan kitab Allah SWT.
  4. Menanamkan kepercayaan akan rasul-rasul-Nya. Untuk mengambil contoh tauladan dari mereka.
  5. Menanamkan kepercayaan kepada Qodho dan Qodar.
  6. Menanamkan kepercayaan akan adanya hari kiamat, dengan menanamkan kepercayaan ini, akan merasa takut melakukan perbuatan tercela, karena saat diakhirat nanti ada balasannya. (Omar Muhammad, 197 : 234)

b. Mengadakan bimbingan agama dengan cara mengikuti terus-menerus antara manusia dengan Allah SWT, dengan cara:

  1. Menciptakan suasana pada hati mereka untuk merasakan adanya Allah SWT dengan melihat segala keagungan yang telah terpana dan terkesan kedala hati mereka.
  2. menanamkan pada hati mereka bahwa Allah SWT akan selalu hadir dalam sanubari mereka di mana pun mereka berada.
  3. Menanamkan pada hati mereka perasaan cinta kepada Allah SWT, secara terus menerus mencari keridhaan-Nya.
  4. Menanamkan perasaan taqwa dan tunduk kepada Allah dan mengorbankan perasaan damai bersama Allah SWT dalam keadan apapun. (Seniawan, 1990 : 30)

Membimbing mereka dengan cara memberikan dorongan kepada hal-hal yang mengarah pada ketaatan kepada Allah SWT dan mendidik mereka dengan berbagai macam ibadah agar dengan hal itu akan terbukalah hatinya.

Demikianlah usaha yang dilakukan, semoga dengan cara yang telah dilakukan dalam mengembangkan potensi beribadah anak tersebut dengan dijalankan secara terus menerus, tanpa mengenal batas maka insya Allah hal itu akan menemani perasaan jiwanya serta mendapat cahaya  dan petunjuk dari Allah SWT, yang selanjutnya akan terbentuklah kepribadian muslim yang hakiki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: