TAMAN PENDIDIKAN PRASEKOLAH CAHAYA INSAN CENDEKIA

Terapi Sensor Intregration

Posted on: January 3, 2014

Teori sensory integration (SI) telah dikembangkan oleh Dr. A. Jean Ayres, seorang terapis okupasi, psikolog pendidikan, yang juga mendalami neuropsikologi. Dr. Ayres menemukan bahwa anak-anak yang mengalami gangguan belajar memiliki kerusakan pada susunan saraf pusat.

Apa yang dimaksud dengan SI?
Sensori integrasi adalah bagaimana seseorang mengatur informasi yang diperoleh dari lingkungan di sekitarnya sehingga informasi tersebut dapat digunakan sesuai dengan situasi. Yang termasuk kategori “sensory”adalah panca indra (mata, hidung, telinga,kulit, lidah) ditambah dengan 2 sistem sensorik lain, yaitu vestibular (berkaitan dengan gaya
gravitasi bumi, keseimbangan) dan proprioseptif (kerja otot dan sendi).

Alat Terapi Sensori

Alat Terapi Sensori

Kedua
sistem ini seringkali disebut the hidden sense,karena kedua sistem ini tidak terlihat secara kasat mata. Sedangkan integration adalah suatu proses yang berlangsung secara berkesinambungan, yang meliputi proses penerimaan,penggabungan dan penyesuaian informasi yang diperoleh, sehingga dapat menentukan reaksi yang sesuai dengan suatu situasi.

Contoh pengolahan informasi yang sesuai adalah:

Seorang anak laki-laki bernama
Bintang. Ia sedang berada di dalam kamar, tiba-tiba ada suara telepon berdering dari luar kamar. Bintang langsung beranjak dari kasur dan berlari ke arah suara dering telepon.Kemudian ia mengangkat telepon dan menjawab pertanyaan. Hal ini berarti Bintang telah melakukan serangkaian proses penerimaan informasi, yaitu registrasi, dimana ia menerima informasi melalui telinga (mendengar suara dering telepon). Kemudian ia melakukan orientasi dengan beranjak dari kasur dan berlari ke arah sumber bunyi (merespon dengan gerak otot dan sendi), dan seterusnya. Dalam kehidupan sehari-hari, proses penerimaan informasi ini berlangsung dengat cepat.

Lalu bagaimana dengan anak-anak yang kurang dapat mengolah
input sensorik dengan baik?

Apabila seorang anak kurang dapat mengolah informasi yang
diterima dari lingkungan, ia dikategorikan dalam gangguan SI, misalnya:

  • Terlalu
    sensitif terhadap suara, sentuhan atau gerakan.
  • >Aktivitasgeraknya sangat banyak atau terkesan tidak bisa diam atau sebaliknya tidak
    mau atau takut untuk bergerak.
  • Suka
    memilih-milih makanan (picky).
  • Biasanya
    ada riwayat keterlambatan dalam berbahasa atau prestasi akademiknya
    menurun.

Anak-anak yang mengalami gangguan SI dapat diibaratkan
seperti arus lalu lintas yang sedang macet, sehingga mobil atau kendaraan tidak dapat bergerak lancar. Demikian juga dengan proses di dalam otak, informasi yang diperoleh dari lingkungan tidak dapat diproses dengan baik, sehingga respon yang muncul biasanya tidak sesuai dengan stimulus yang diterima.

Misalnya kalau dipanggil tidak menoleh atau terlalu sensitif, jika mukanya dibasuh atau kepalanya dikeramas, ia akan menangis.

Terkadang tanggapan orang awam, anak-anak dengan SI dianggap
sebagai anak yang manja tapi sebenarnya mereka merasakan bahwa informasi atau input yang diterima sangat tidak mengenakkan atau sangat menyakitkan.

Berikut ini beberapa panduan deteksi dini gangguan SI untuk anak usia 0-2 tahun:

Mandi, berpakaian, sentuhan

  1. Marah / menangis pada saat memakai atau mengganti popok.
  2. Hanya suka pada jenis pakaian tertentu, tidak suka dengan tekstur kain tertentu.
  3. Tidak suka / menangis, ketika mandi, keramas dan muka dibasuh/ dibersihkan.
  4. Suka memakai baju lengan panjang meskipun hari panas.
  5. Tidak suka jenis permainan yangamburadul (bermain bedak, tepung, air).
  6. Tidak mudah merasa sakit, ketika jatuh, terantuk atau tidak menangis ketika disuntik.

Gerakan (movement):

  1. Pada tahap perkembangan motorik, anak tidak melalui tahapan merangkak atau tahap merangkaknya pendek.
  2. Tidak bisa diam: banyak gerak, lari-lari, lompat-lompat, berayun.
  3. Tidak suka / menangis, ketika diayun.
  4. Mudah jatuh, kikuk, keseimbangan tubuh kurang bagus, mudah jatuh, sering menabrak benda (setelah usia 1 tahun).
  5. Takut atau ragu-ragu bergerak di permukaan yang tidak rata atau takut bergerak pada permukaan yang tidak sama (misalnya dari lantai keramik ke karpet).

Pendengaran, Bahasa dan Suara:

  1. Tidak suka / menghindar dari bunyi-bunyian tertentu (musik, vacuum cleaner, hair dryer, flushing toilet).
  2. Organ pendengaran normal tapi ketika dipanggil namanya, anak tidak merespon / menoleh.
  3. Tidak ada/ sedikit fase mengoceh (babbling).
  4. Sangat mudah terganggu / beralih perhatian pada suara tertentu (suara iklan TV).
  1. Sensitif pada sinar terang (kilat foto, matahari).
  2. Menghindari kontak mata.
  3. Sulit untuk memusatkan perhatian pada satu benda/permainan.
  4. Takut atau sebaliknya sangat suka pada pola-pola tertentu.

Kemampuan bermain:

  1. Tidak bisa melakukan permainan meniru (usia lebih dari 10 bulan).
  2. Tidak bisa diam, bergerakterus dan tidak dapat melakukan permainan yang bermakna (lebih dari 15 bulan).
  3. Sering merusak barang (melempar, membanting.
  4. Asyik dengan satu permainan dan dilakukan berulang-ulang.

Emotional attachment:

  1. Lebih suka bermain dengan benda / mainan daripada dengan orang.
  2. Tidak ada komunikasi dua arah (hubungan timbal balik antara antara anak dengan orang tua / pengasuh).
  3. Menyakiti diri sendiri dan orang lain (membenturkan kepala, memukul, menggigit, menjambak).
  4. Tidak mencari kedekatan dengan orangtua atau pengasuh.
  5. Semua orang yang berada di sekitar anak, sering kali tidak tahu keinginan anak.

Perhatian (attention):

  1. Mudah beralih perhatian, sulit untuk fokus pada satu kegiatan / permainan.
  2. Terlalu fokus pada satu kegiatan / permainan (acara TV, iklan TV, roda berputar, dan lainnya).

Pola tidur dan makan:

  1. Sulit untuk memulai tidur. Perlu cara khusus untuk menidurkan anak, misalnya harus diayun-ayun, naik mobil, digendong sambil
    berjalan.
  2. Mengalami kesulitan dalam menyedot, mengu-nyah, dan menelan makanan.
  3. Tidak dapat menahan air liur atau ngiler yang terlalu berlebihan.
  4. Hanya suka pada jenis makanan tertentu, tidak mau mencoba makanan baru.

Apabila terlihat adanya gejala-gejala di atas, segeralah meminta bantuan para profesional (terapis, psikolog atau dokter) yang memiliki pengetahuan tentang Sensory Integration.

Referensi:

  1. Ayres, J.A., (1979): Sensory Integration and The Child,
    Los Angeles:
    Western Psychological Service.
  2. Bundy, A.C., Lane, S.J., Murray, E.A. (2002): Sensory Integration
    Approach: Theory and Practise, Second Edition, Philadelphia: F.A. Davis Company
  3. Dunn, W. (2002): Infant Toddler Sensory Profile, USA:Therapy Skill Builders And The Psychological
    Corporation.         Sumber : http://www.anakku.net/terapi-sensory-integration.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: