TAMAN PENDIDIKAN PRASEKOLAH CAHAYA INSAN CENDEKIA

Orang Tua Sebagai Pahlawan Keluarga

Posted on: November 13, 2014

ayah ibu

ayah ibu

Tepat 10 November 2014, Indonesia Memperingati hari bersejarah Nasional Hari Pahlawan.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “pahlawan” didefinisikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. 10 November selalu diperingati sebagai hai Pahlawan, peringatan ini sebagai pengingat akan perjuangan para pahlawan Indonesia untuk meraih kemerdekaan.  Peristiwa perjuangan yang terjadi atara pasukan peta yang melawan para penjajah. Keberhasilan Pahlawan Indonesia mengusir para penjajah di Kota Surabaya, yang menjadi pelopor semangat perjuangan di daerah yang lain. Sebagai balasannya untuk meneruskan perjuangan hendak kita selalu mengisi kemerdekaan dengan terus belajar dan berprestasi agar Indonesia tidak mudah dijajah oleh bangsa manapun dari penjuru manapun. TK CIC

Para pejuang memperjuangkan kemerdekaan sampai titik darah penghabisan, jiwa dan raga dikorbankan sampai Indonesia terbebas dari para penjajah. Tidak hanya pahlawan Nasional yang berjasa, Tetapi perang orang tua sangat berpengaruh sebagai pahlawan bagi keluarga dan anak-anaknya. Orang tua yang selalu berjuang mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, membagi waktu mendidik dan memberikan pengalaman berharga kepada anak-anaknya.  Orang tua selalu bekerja keras memberikan kehidupan yang terbaik.

Dalam sebuah keluarga yang sehat, seorang ayah adalah pahlawan bagi istri, anak-anak dan anggota keluarga lain yang ditanggungnya; seorang istri adalah pahlawan bagi anak-anaknya dan anggota keluarga lainnya; seorang anak bisa menjadi pahlawan bagi saudara dan anggota keluarga yang lain. Sesama anggota saling menjaga & saling melindungi sesuai dengan nasihat Luqman kepada anaknya. QS Luqman : 16-19.

 

Dalam kitab Fathul Bari jilid 1, karya Imam Ibn Hajar al-Asqalani, disebutkan bahwa ‘Nafkah seorang pria kepada keluarganya dihitung sebagai shadaqah, dan ada yang berkata, “Bahkan jihad dan niat.”’[1] Dan pada halaman 244 kitab tersebut disebutkan riwayat sebagai berikut:

 

’Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dari Al Qa’nabi. yaitu Abdullah bin Maslamah.

Dari Abi Mas ‘ud radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah SA W, ‘Apabila seorang pria menafkahkan hasil usahanya kepada keluarganya maka perbuatan tersebut dianggap sedekah baginya.”’

 

Peran Orang Tua Sebagai Pahlawan

Mendidik anak-anak yang shalih adalah kerja kepahlawanan bagi orang tua, karena proses pendidikan anak yang ideal menuntut kesabaran dan pengorbanan yang tinggi dari orang tua. Tapi hasilnya juga tidak main-main, yaitu generasi yang kuat dan tangguh. Jarang orang yang menyadari bahwa tanpa adanya karakter kepahlawanan di dalam rumah tangga, maka tidak akan pernah muncul pahlawan sejati di tengah-tengah masyarakat dan negara, karena keluarga telah mandul dari melahirkan generasi yang ideal.

 Peran Anak Sebagai Pahlawan

 

Bukan hanya orang tua saja yang bisa menjadi pahlawan rumah tangga, anak-anak juga perlu dibentuk ke arah ini. Perlu dibangun karakter kepahlawanan dalam diri mereka. Banyak anak-anak modern yang terbiasa menonton TV dan film. Hal ini tentu saja perlu dibatasi dan diarahkan. Dalam film-film ini sebetulnya banyak yang menampilkan aspek-aspek kepahlawanan. Hanya saja, nilai-nilai positif dalam kepahlawanan itu sering tenggelam dan yang terekam dalam benak anak hanya aspek kekerasan dan beberapa pesan negatif lainnya.

 

Orang tua perlu menjadi orang yang pandai dalam membatasi anak dalam mengkonsumsi media serta membantu anak dalam menangkap nilai-nilai yang positif dalam cerita-cerita tsb, antara lain semangat untuk membantu dan menolong orang lain, berkorban demi kebaikan orang lain, mengusahakan kemaslahatan banyak orang di atas kepentingan pribadi.

 

Upayakan untuk melakukan internalisasi nilai-nilai ini dalam diri anak dan bantu mereka untuk menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadikan anak-anak memahami dan mencintai nilai-nilai ini, sehingga hal itu menjadi bagian dari hidup mereka. Sekiranya ini berhasil, maka mereka akan tumbuh secara sehat dan menggembirakan orang tuanya.

 

Namun semua itu tidak akan berjalan tanpa didukung dengan karakter atau sifat yang akan membentuk anak menjadi seorang pahlawan. Karakter yang harus dibangun agar tumbuh sifat kepahlawanan beberapa diantaranya yaitu:

 

  1. As-Syaja’ah (Keberanian)

Seseorang dapat dikatakan memiliki sifat berani jika ia memiliki daya tahan yang besar untuk menghadapi kesulitan, penderitaan dan mungkin saja bahaya dan penyiksaan karena ia berada di jalan Allah.  “Qulil haq walau kaana muuran”(katakan yang benar meskipun itu pahit) dan berkata benar di hadapan penguasa yang zhalim adalah juga salah satu bentuk jihad bil lisan. Jelas saja dibutuhkan keberanian menanggung segala resiko bila kita senantiasa berterus terang dalam kebenaran.

QS Hud (11): 112“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

  1. Istiqomah (Konsisten)

Jadi orang yang istiqamah akan senantiasa berani, dan optimis karena yakin berada di jalan yang benar dan yakin pula akan dekatnya pertolongan Allah.

 

QS Luqman (31): 22 ”Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh kepada buhul (tali) yang kukuh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan”

 

Rasulullah saw. Memahami benar makna istiqamah yang sesungguhnya sampai ketika Abu Sufyan bertanya hal terpenting apa dalam Islam yang membuatnya tak perlu bertanya lagi, beliau menjawab, “Berimanlah kepada Allah dan kemudian beristiqamahlah (terhadap yang kau imani tersebut)”. Di kesempatan lain, Rasulullah saw. juga mengatakan tantangan buat orang yang istiqamah memegang Islam di akhir zaman, begitu berat laksana menggenggam bara api.

 

  1. Ithmi’nan (Ketenangan)

Sifat tenang mutlak dimiliki orang yang sedang menghadapi mara bahaya agar tetap berpikir logis dan jernih, hingga bisa keluar dari permasalahan.

 

QS At-Taubah (9): 40 ”….’janganlah engkau bersedih sesungguhnya Allah bersama kita’ Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) ….”

Rasulullah saat menasihati Khabbab bin Harits yang berkeluh kesah atas beratnya penderitaan yang dialaminya, beliau mengingatkan Khabbab akan perjuangan para Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu yang jauh lebih berat tapi mereka tetap berani dan tabah. Jadi kita bisa memupuk keberanian dan kesabaran dengan berkata, “Ah… cobaan ini belum seberapa dibanding yang pernah dialami orang-orang shaleh terdahulu”.

Pada akhirnya menjadi seorang pahlawan merupakan sebuah kemungkinan besar bagi kita semua mengingat serta akan adanya imbalan optimal berupa ampunan dan surga-Nya kiranya akan memperbesar keberanian dan semangat juang, insya Allah. Wallahu a’lam

sumber: http://ellinasupendy.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: