TAMAN PENDIDIKAN PRASEKOLAH CAHAYA INSAN CENDEKIA

Mengelola Emosi Anak

Posted on: April 1, 2015

mengelola emosi anak

mengelola emosi anak

Mungkin sebagai orang tua kita sering kesal mendengar permintaan anak yang selalu harus dituruti, apabila tidak langsung dituruti anak akan menangis keras-keras dan mengamuk, tidak ada lagi negosiasi untuk menunda memenuhi keinginannya. Apalagi jika dibandingkan dengan anka-anak lain yang masih bisa berembuk untuk mengalihkan perhatian dan keinginannya.

Pernah ingat sebuah lagu yg penciptanya adalah Tuhan….? Ya persis… Pelangi-pelangi alangkah Indahmu, Merah Kuning Hijau dilangit yg biru, pelukismu Agung siapa gerangan…? Pelangi2 ciptaan Tuhan !!! Lagu ini tepat sekali menggambarkan anak kita yg mirip seperti pelangi Ciptaan Tuhan berwarna-warni dan semuanya Indah.

Setiap anak selalu memiliki sisi yg kita “Anggap” kelebihan dan sisi yang kita anggap “kekurangan”, tapi tahukah kita bahwa di baling sisi kekurangan anak kita sekaligus mencerminkan kelebihannya.

Sebagai contoh ada kakak dan adik, antara kakak dan adik pun memiliki perbedaan baik dari sikap, kebiasaan, bahkan kesukaan. misalnya saja si kakak yg selalu ingin memaksakan kehendaknya, disatu sisi ini kita anggap kekurangan padahal di lain sisi ia adalah seorang anak yg memiliki tekad yg kuat, yg merupakan ciri-ciri  para pemimpin besar baik di perusahaan atau di dunia politik. Berbeda dengan si Adik yg kita “anggap” memiliki kelebihan bisa di ajak berdamai, tapi sering kali kurang punya keinginan yg jelas dan daya juangnya lemah serta mudah menyerah.

Begitulah anak-anak dengan warna-warninya masing-masing, dengan kelebihan sekaligus kekurangannya masing-masing. Tugas kita sebagai orang tua adalah melakukan pendekatan sesuai dengan tipe dasar mereka dan bukannya malah membandingkan antara di Kakak dengan Si Adik. Ini akan sangat menyinggung persaaan anak-anak kita dan membuat mereka makin sulit di kendalikan. Ingatlah kita sendiri juga akan “ngambek” jika sering dibanding-bandingkan oleh suami kita dengan orang lain yang ia anggap lebih baik, bukan ?

Kebanyakan orang tua memang menginginkan anak yg nurut dan mudah di atur… tapi ingalah selalu siapakah orang ya paling nurut dan mudah di kantor apakah dia atasan atau rata-rata adalah bawahan…? Selama 17 tahun saya berprofesi di dunia kerja, seingat saya belum pernah bertemu dengan para atasan dan pimpinan yg sangat penurut dan mudah di atur.

Nah sekarang fokusnya adalah bagaimana kita bisa membesarkan si calon pemimpin ini agar kelak menjadi pemimpin yg baik dan benar-benar jadi pemimpin. Karena banyak sekali anak2 yg bertipe pemimpin seperti si kakak tapi oleh orang tuanya terus di tekan menjadi penurut maka akhirnya kelak ia tidak berhasil menjadi pemimpin, dan hanya menjadi bawahan, namun sayangnya bukan juga bawahan yg baik melainkan bawahan yg bermasalah dan suka melawan atasannya.

Untuk mendidik seorang anak pemimpin seperti si Kakak, ibu juga harus menjadi pemimpin yg baik. Bagaimana caranya…? Kakak membutuhkan seorang ibu yang tidak terlalu banyak bicara, karena kakak kurang suka ibu yg banyak bicara apalagi Nato (No action talk only). Banyak mengancam tapi hanya ancaman kosong dan tidak dilaksanakan.

Seorang anak pemimpin itu selalu ingin menentukan pilihannya sendiri, jadi jika ingin meminta sesuatu padanya gunakanlah teknik dengan memberikan bebarapa pilihan, misalnya begini; Kakak sudah sore, kakak harus mandi, mau mandi sekarang atau 10 menit lagi. Maka biasanya si Kakak akan menawar… ah 15 menit lagi dong…., lalu katakan oke 15 menit lagi dari sekarang ya…!

Nah setelah itu ikat dengan perjanjian reward & konsekwensi, Tegaskan kembali padanya, Nah jika ternyata nanti 15 menit kakak belum juga mandi, kakak mau pilih, apakah nanti kakak tidak dapat uang jajan, atau tidak nonton film kesukaan atau tidak main komputer.

Jadi.. ingatlah selalu untuk membuat aturan main yg jelas untuk setiap kasus, buat kesepakatan tentang konsekuensi apa yg akan di berlakukan jika terjadi pelanggaran. Dan yg paling penting adalah TEGAS MELAKSANAKANNYA tanpa KOMPROMI.

Jika terjadi perlawanan dan teriak dari si Kakak maka katakan, jika kamu teriak maka konsekuensinya akan di tambah kamu mau pilih masuk kamar tidur atau masuk kamar mandi. Tapi jika kamu diam kamu tidak akan terkena hukuman, ayo pilih mau diam atu masuk kamar mandi. Jangan lupa dengan metode hitungan. Mama akan hitung s.d 10 jika kamu tidak diam maka mama akan paksa kamu masuk kamar mandi.

Setelah itu diam tegas, mengihitung dan melaksanakan apa yg di ucapkan jika anak tidak juga mau berhenti berteriak.

Jika kita tegas maka anak perlahan-lahan akan menghormati orang tuanya, karena seorang anak tipe pemimpin hanya akan hormat dengan orang yang sedikit bicara, tegas dan memiliki aturan main yang jelas dan konsisten seperti dirinya.

Pada saat membuat aturan main dan konsekuensi hukuman di usahakan tidak dalam kondisi sedang emosi, dan usahakan jenis hukuman adalah yg mengurangi kesenangan anak seperti bermain, nonton tv kesukaan, bermain game atau apapun, dan jika tidak mempan baru mulai di tawarkan apa yg dia tidak sukai seperti masuk kamar atau kamar mandi tadi.

Kunci dari semua keberhasilan mendidik adalah kejelasan aturan main dan kekompakan serta ketegasan dari kedua orang tuanya. Akan sulit sekali mendidik anak jika kita sendiri belum kompak dengan pasangan atau belum kompak dengan mertua yang sama sayangnya kepada anak kita. Karena mertua cenderung akan memanjakan cucunya, untuk itu perlu adanya kerjasama yang baik agar emosi dan keinginan anak dapat dikendalikan

Sumber: https://www.facebook.com/pages/Komunitas-AYAH-EDY/141694892568287?fref=nf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: