TAMAN PENDIDIKAN PRASEKOLAH CAHAYA INSAN CENDEKIA

Mengenalkan Profesi Kepada Anak

Posted on: April 2, 2015

Anak adalah harapan kedua orang tuanya, untuk itu sedini mungkin orang tua mulai mengenalkan karer yang ada sehingga ank bisa memeliki gambaran cita-cita yang akan dia capai saat besar nanti. Pengenalan profesi bagi anak sangat penting. Alasannya, karena  dengan begitu anak-anak bisa tahu berbagai profesi yang ada dan dia bisa menghargai semua profesi itu. “Jadi jangan sampai dia hanya menghargai profesi dokter saja, misalnya.

Mengapa menghargai semua profesi itu penting? Karena, itu merupakan modal hidup bagi mereka di masa depan sekaligus juga mengarahkan motivasi anak ingin jadi apa mereka kelak.

Yang perlu disadari para orangtua, cara anak menghargai profesi orang lain akan sangat bergantung dari cara orangtua menghargai profesi orang lain. Misalnya, untuk mengajarkan anak menghargai tukang jahit, orangtua dapat membantu mengarahkan,misalkan “Lihat deh penjahit ini, pintar loh, bisa bikin baju mama bagus-bagus.” Dengan begitu, anak jadi menghargai profesi itu karena setiap pekerjaan atau profesi menuntut keahlian khusus.

Begitu pula dengan profesi lainnya seperti tukang becak, tukang sampah, bahkan pembantu rumah tangga (khadimat). Banyak anak-anak yang tidak menghargai pekerjaan khadimat akibat perlakuan orangtua yang sering meremehkan mereka. Padahal, keberadaan mereka sangat penting bagi seisi keluarga. Cobalah ajak anak-anak berdialog agar mereka menghargaikhadimat di rumah. Misalnya ungkapkan pada anak, “Mbak sangat penting buat kita, karena mbak membantu Bunda sehari-hari. Apalagi, kalau Bunda sedang tidak ada di rumah. Mbak membantu mengerjakan pekerjaan di rumah dan menjaga kalian.” Dengan menghargai profesi orang lain, maka anak-anak tidak akan memandang rendah pekerjaan orang lain.

Sebagai koreksi, orangtua – selama masih mungkin – untuk  menghindari kata ‘tukang’ yang terkesan kurang menghargai profesi seseorang. Apalagi bila dikatakan dengan mimik merendahkan. Seperti ‘tukang jahit’, lebih baik bilang ‘penjahit’ dan sebagainya.

Dengan menghargai semua profesi anak akan belajar untuk menghargai orang lain. Nilai-nilai positif, seperti tanggungjawab, kejujuran dan keberanian justru lebih penting ketimbang mendahulukan jenis profesinya. Jadi, anak akan tahu bahwa tukang sampah yang jujur itu lebih baik daripada pengacara yang pembohong. Sehingga, profesi apa pun yang dipilih anak, karakter positif anak tetap yang utama.

Pengenalan bertahap

Dalam tahapan berpikir dengan cara yang kongkrit, anak-anak banyak belajar dari sesuatu yang nyata di depannya. Bukannya sesuatu yang tidak bisa kita lihat alias abstrak. Terkait dengan cara berpikir yang kongkrit itu, bayangan ‘Nanti mau jadi apa?’ pun sangat terkait dengan sesuatu yang pernah dilihatnya, atau diceritakan berulang-ulang. Bila ruang geraknya masih terbatas di rumah saja, anak banyak yang menjawab, “Nanti aku mau jadi Ibu.” Sebaliknya, anak laki-laki mengatakan, “Aku mau jadi Ayah.” Anak-anak usia pra sekolah menganggap menjadi Ibu atau Ayah sebagai sebuah pekerjaan.

Boleh jadi, anak TK seperti Raihan maunya jadi pilot, karena profesi pilot sering diceritakan orangtua saat ia sedang bermain. Namun, ia juga cukup sering ketemu dokter untuk kontrol kesehatannya. Dalam bayangan anak, jadi dokter keren. Tapi, begitu disuntik dokter, langsung berubah tidak mau jadi dokter. Banyak juga anak-anak yang mau jadi baby sitter, karena sering bertemu dengannya. Begitu masuk sekolah, berubah lagi mau jadi guru.

Jadi, jenis profesi apa yang sering disebut anak. Setidaknya menurut doktor bidang psikologi lulusan Universitas Indonesia ini ini ada dua hal yang mendasarinya. Pertama, tergantung dari apa yang paling sering dia lihat. Kedua, apa yang paling sering memberikan kenyamanan buat anak. Itulah makanya pengenalan ini semestinya dilakukan dengan cara menyenangkan.

Perkenalan yang menyenangkan

Tahapan pengenalan profesi dilakukan dengan cara mengenalkan beraneka profesi dengan cara yang menyenangkan. Jadi, bukan hanya ekspos langsung, tapi harus ekspos yang menyenangkan saat mengenalkan profesi. Misalnya, kalau anak-anak itu kita bawa ke pembuat roti.  Anak akan melihat ekspresi orang itu, apalagi kalau orang itu menyapa, dengan gembira, kemudian berkomunikasi, pengalaman itu bukan hanya menggambarkan tentang profesi pembuat roti, tapi juga akan menggambarkan bahwa pekerjaan itu mengasyikkan.

Ekspos langsung juga dapat dilakukan dengan cara berkunjung ke tempat pembuatan keramik, kemudian anak bisa mencoba dan ada orang yang menjelaskan pekerjaannya sehari-hari. Contoh lain, misalnya kita membawa ke airport seperti apa, atau kita bawa anak ke airport, kita perlihatkan ke anak di situ ada desk-nya, ada porter-nya, kita jelaskan ke anak juga apa fungsi mereka satu per satu.

Ekspos langsung bisa dilakukan secara menyengaja datang ke suatu tempat, atau dalam kegiatan keseharian. Misalnya, saat ikut belanja di supermarket, orangtua dapat menjelaskan tugas kasir, petugas informasi, pencatat harga, dan lain-lain. Ajak anak untuk berkenalan dengan mereka.

Kemudian kita juga bisa lihat ada orang yang memotong daging (butcher) itu kita kenalkan. Sebenarnya dalam kegiatan keseharian kita, kita bisa mengenalkan beragam profesi. Tidak perlu kaku bahwa ‘hari ini saya mau mengenalkan profesi ini’. Begitu masuk jalan tol,  ada petugas tol. Kita naik taksi, kita kenalkan ada profesi sopi taksi. Jadi apapun bisa jadi bahan. Tergantung pada seberapa sering kita mengajak anak ke berbagai profesi yang ada. “Kuncinya, beri waktu untuk anak itu bertanya, berkomunikasilah. Jadi kita tahu ketertarikan anak pada (profesi-red) yang mana, biasanya pada pertanyaan apa yang diajukan.”

Dengan ekspos langsung atau pun melalui media, anak semakin tahu bahwa ada berbagai profesi. “Tapi, memang jangan satu hari kita mengenalkan 10 profesi, nanti pusing kepalanya. Tapi sedikit-sedikit, dengan menyenangkan, tidak diburu-buru. Kalau diburu-buru, nanti tidak akan melekat,” tutur ibu dua anak ini.

pemadam kebakaran

pemadam kebakaran

 

Minat dan bakat

Supaya bisa berhasil di suatu profesi atau bidang, ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Bukan hanya minat dan bakat, tapi taraf kecerdasan, ketekunan, kesehatan, aspek kepribadian. Orangtua bisa melihat anak sebenarnya cukup berminat dan punya bakat juga, tapi untuk sampai menekuninya sampai jadi profesi tidak cukup  sampai di situ. Anak yang berminat dan berbakat di bidang musik, potensinya akan terasah kalau dia belajar musik dan berada pada lingkungan yang mengapresiasi musik. Apalagi, bila ditambah dengan mengikuti kompetisi dan sebagainya.

Orangtua bisa membantu agar anak lebih fokus pada kegiatan yang disukainya. Misalnya, anak yang berminat di bidang kesehatan, kita bisa bantu dengan eksposing lebih banyak mengenai masalah-masalah kesehatan, seperti mengikuti eksul PMR di sekolah. Kemampuannya bagaimana? Untuk masuk ke Fakultas Kedokteran, nilainya harus tinggi. Nilai anak bagaimana? Orangtua terus mendampingi supaya minat, kemampuan anak dan kemampuan orangtua juga klop.

Nanti mau jadi apa?’ Semoga, keinginan orangtua dan anak seimbang dengan usaha yang dilakukan untuk mencapai harapan. Konon, tanpa perencanaan sama saja dengan merencanakan kegagalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: