TAMAN PENDIDIKAN PRASEKOLAH CAHAYA INSAN CENDEKIA

“Dampak Kehilangan Tahap Merangkak pada Anak”

Posted on: May 30, 2015

Perkembangan bayi

Perkembangan bayi

Si kecil bisa berjalan lebih dini tanpa melalui tahap merangkak? Jangan bangga dulu, karena menganggap itu sebagai tanda bahwa tumbuh kembang si kecil tergolong pesat. Sadari bahwa melewatkan tahap merangkak justru bisa berdampak buruk di kemudian hari! ”Dampak itu muncul saat anak memasuki usia bangku sekolah dasar. Seperti, anak jadi susah konsentrasi, kurang fokus, tulisan tangannya jelek, gampang jatuh, konvergensi mata kurang bagus, serta koordinasi mata dan tangannya kurang bagus,” ujar pakar stimulasi anak dari Pusat Stimulasi Anak Glenn Doman Jakarta Irene F Mongkar kepada Nyata.

Memang, kata Irene, belum ada penelitian pasti soal dampak tersebut. Namun, 80 persen orangtua yang anaknya mengalami masalah-masalah tersebut dan berkonsultasi kepadanya, ternyata melewatkan tahap merangkak. ”Jadi, daripada di kemudian hari anak mengalami masalah-masalah seperti itu, lebih baik beri kesempatan anak untuk merangkak,” tandasnya. Irene menjelaskan, merangkak merupakan langkah pertama bayi melawan gravitasi, merupakan fase perkembangan otak, dan tonggak sistem koordinasi tubuh . Pada saat itu, bayi akan belajar banyak hal, seperti:

– Keseimbangan
Saat merangkak, bayi akan belajar koordinasi gerak tangan dan kaki. Merangkak akan berjalan dengan baik kalau tangan kanan dan kaki kiri maju. Bukan kaki kanan dan tangan kanan.
Belajar koordinasi itu akan melatih otak menjaga keseimbangan, yang nantinya akan berguna pada kemampuan jalan dan lari. Keseimbangan juga bermanfaat untuk kesadaran diri.
”Anak yang keseimbangannya baik, saat jatuh akan berada pada posisi benar, sehingga terhindari dari akibat fatal. Jadi, otaknya dilatih untuk sadar diri. Begitu ada sesuatu yang ’menghantamnya’, anak bisa refleks bergerak dengan cukup baik, karena kesimbangannya matang,” beber Irene.

– Kemampuan Konvergensi
Anak yang tidak melalui tahap merangkak, gerakan konvergensi (pemusatan pandangan)-nya akan terganggu, sehingga penglihatannya jadi buram, letih, atau nyeri kepala, sehingga tidak suka membaca. Sebab, hanya membaca beberapa waktu saja tulisan yang dibacanya akan tampak goyang, buram, dan akhirnya membuatnya pusing.

– Koordinasi Mata-Tangan
Anak-anak yang tidak merangkak akan kesulitan melakukan gerakan yang memerlukan koordinasi antara mata dengan tangan. Misalnya, mengancingkan baju. Sebab, anak akan melihat lubang kancing dan kancingnya dua, sehingga bingung mana akan masuk ke lubang mana. ”Itu karena konvergensi matanya kurang bagus,” ujar Irene.

– Melatih Tiga Dimensi
Dengan merangkak, bayi akan melatih kemampuan melihat segala sesuatunya secara tiga dimensi. Misalnya, saat berjalan dan ada lubang di depannya, tanpa perlu melihat dengan jelas dari dekat, anak akan langsung tahu dan berupaya menghindarinya.

– Melatih Lengan
Merangkak akan melatih lengan bayi, sehingga menjadi lebih kuat. Itu akan membantunya belajar menulis.”Dibutuhkan lengan yang kuat saat menulis, untuk menekan pensil di atas kertas. Bila tekanannya tidak kuat, tulisan akan mengambang, sehingga sulit dibaca,” ujar Irene.

– Melatih Otak
Merangkak akan meningkatkan kemampuan berpikir otak kiri dan kanan, untuk menyiapkan diri masuk ke tahap perkembangan selanjutnya.

STIMULASI
Bayi mulai masuk tahap merangkak pada usia 6-7 bulan. Tapi, itu juga bergantung pada stimulasi atau rangsangan yang diberikan orangtua. Merangkak dimulai dengan gerakan merayap, yaitu gerakan menggeserkan tubuh dengan bertumpu pada perut.
Untuk itu, Irene menyarankan agar bayi ditengkurapkan di permukaan yang tidak terlalu empuk atau cukup keras namun tidak membuat bayi sakit bisa terbentur, dan ruangan yang cukup hangat. ”Bila diberi sarana yang cukup baik untuk merayap, bayi akan merangkak lebih cepat,” ujarnya. Selain itu, lakukan stimulasi agar bayi bisa melalui tahapan merangkak dengan baik, seperti:

– Tempatkan di Ruang Cukup Luas
Biarkan bayi berada di ruangan yang cukup luas agar bebas merangkak. Masalahnya, seringkali kesempatan itu tidak ada, sehingga anak tidak leluasa merangkak. ”Ketika anak duduk dan baru merangkak dua-tiga langkah, sudah bertemu kaki meja atau kursi, sehingga ia langsung berpegangan untuk berdiri. Itulah yang membuat anak melewatkan tahap atau fase merangkak,” terang Irene.

– Beri Motivasi
Orangtua harus terlibat saat bayi belajar merangkak. Misalnya, dengan memotivasi dengan mengajak bayi bermain dan mengajari cara merangkak yang benar. ”Bila merayapnya sudah bagus, biasanya bayi akan lebih mudah merangkak,” kata Irene.
Tahap merangkak biasanya dimulai dengan ongkong-ongkong, kemudian mulailah merangkak. Yang harus diperhatikan, merangkak tidak hanya berarti bayi berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tapi, gerakan itu harus benar, yaitu saat tangan kanan bergerak ke depan harus diikuti kaki kiri yang bergerak maju. Begitu sebaliknya. ”Itu menunjukkan koordinasi otak yang baik,” tandasnya. Dan, yang perlu disadari, merangkak tidak hanya berarti bayi berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tapi gerakan itu harus terus meningkat. ”Jadi, saat merangkak, bayi perlu dilatih di berbagai permukaan, baik tinggi, rendah, atau miring, sehingga ia bisa merangkak di berbagai dasar,” ujar Irene. ”Selain itu, orangtua juga perlu melatih kesadaran atau awareness-nya. Misalnya, dengan menyenggol sedikit pantatnya. Kalau ia aware, saat kehilangan keseimbangan bayi akan segera balik lagi,” imbuhnya.
Bagaimana bila gerakan bayi merangkak tidak maju tetapi mundur? Menurut Irene, itu menunjukkan adanya masalah pada otak bayi. Karena itu, orangtua harus membantu agar bayi belajar merangkak maju. Misalnya, orangtua bisa berada pada posisi merangkak, kemudian anak diletakkan di bawah tubuhnya. Selanjutnya, orangtua merangkak maju, sehingga anak akan bergerak mengikuti. Atau, meletakkan mainan favorit di depan anak agar anak bergerak maju dalam posisi merangkak. ”Usahakan tidak terlalu jauh. Cukup posisikan mainannya di tempat yang mudah dijangkau oleh tangan bayi. Sebab, perjuangan untuk meraih mainan bisa membuat bayi frustrasi,” ujarnya mengingatkan.

BILA ANAK TERLANJUR MERANGKAK
Lantas, bagaimana bila sudah besar dan telanjur melewatkan fase merangkak? Ditanya seperti itu, Irene mengatakan, anak bisa dilatih untuk kembali melakukan kegiatan merangkak setiap hari selema 3-6 bulan. ”Orangtua harus bisa memotivasi anak agar mau melakukan kegiatan itu. Memang agak susah meminta anak yang sudah cukup besar, yang sudah bisa berjalan dan berlari, untuk merangkak. Untuk itu, melatihnya harus dikondisikan dengan bermain,” ujarnya.
Namun, lagi-lagi Irine mengingatkan, ketimbang anak harus menanggung dampak yang tidak diinginkan di kemudian hari, orangtua sebaiknya tidak membuat anak melewatkan tahap perkembangan normal anak, yaitu merayap, merangkak, berdiri, berjalan, dan akhirnya berlari. ”Jangan ada potong kompas. Jangan ingin hasil instan, karena waktu itu tidak bisa diulang. Sekali melewati masa itu, maka akan lewat. Walaupun bisa dilakukan pengulangan, dengan dilatih kembali, tapi bila orangtua tidak mengetahuinya, bisa lewat begitu saja,” tandasnya.*nao/ss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: